Kejatuhan Pasar Finansial untuk Kesekian Kalinya

DIAGRAM

https://www.channelindependenpost.eu.org/, Jakarta – BEI (Bursa Efek Indonesia) buka-tutup perdagangan bursa saham karena IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sempat terjungkir ke posisi 4.650 atau turun 5,01 persen sejak dibuka Jumat 13/3/2020. (CNN Indonesia)

Di New York, Wall Street rebound pada Jumat 13/3/2020 karena investor bertaruh adanya stimulus fiskal untuk menangkal resesi global akibat pandemi coronavirus. Wall Street rebound 3%-4% setelah mencatat pergerakan terburuk sejak 1987.

Begitu pun nasib rupiah. Sempat menyandang mata uang paling perkasa di kawasan Asia, kini rupiah lemah tak berdaya. Bahkan, kini posisi rupiah tinggal selangkah lagi untuk mencetak rekor terburuk sepanjang masa.

Mengutip Bloomberg via Kontan.co.id, Senin (23/3/2020) pukul 10.45 WIB, rupiah masih berada di level Rp16.550 per dolar Amerika Serikat, turun 3,69 persen dibanding penutupan Jumat (20/3/2020) di Rp15.960 per dolar AS. Selangkah lagi, rupiah mengincar rekor terburuknya sepanjang masa yang sebelumnya dicetak pada 17 Juni 1998, yakni di level Rp16.650 per dolar AS. Dengan posisi saat ini pun, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan.

Dalam situasi normal, penerapan sistem ekonomi sekuler sudah rentan krisis. Apalagi jika terjadi situasi extraordinary (situasi yang tidak biasa). Kejatuhan pasar finansial ini adalah problem klasik peradaban sekuler hari ini yang sudah terjadi kesekian kalinya.

Sebelumnya, pada Maret tahun 2000, indeks Nasdaq jatuh sebesar 78% saat memasuki Oktober 2008 karena penggelembungan nilai saham perusahaan internet. (Adnan Khan, 2008).

Pada 1998, perusahaan permodalan Long-Term Capital Market yang memperdagangkan obligasi mengalami kolaps lalu menyebar ke Rusia dan Brazil.

Krisis yang lebih parah terjadi saat pasar modal Amerika Serikat mengalami kejatuhan terbesarnya sejak depresi besar pada 19 Oktober 1987, saat indeks harga saham gabungan Dow Jones pada beberapa perusahaan Amerika Serikat jatuh sebesar 22%, yang kemudian diikuti Eropa dan Jepang.

Sebelumnya lagi, bursa Wall Street mengalami ‘Black Thursday’ pada 1929 yang mendorong Amerika Serikat dan ekonomi global dalam putaran arus yang menghasilkan depresi besar di dekade 1930-an.

Spekulasi telah menjadikan ekonomi global menjadi lebih rapuh dalam menghadapi guncangan finansial. Kehancuran pasar modal yang dikatakan ekonom Barat hanya terjadi 1 kali dalam 10.000 tahun, faktanya terus terjadi berulang-kali dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Ketamakan kini telah menjangkiti semua orang dalam mencari kekayaan, dan telah menjadi faktor yang membuat orang memperjualbelikan saham, obligasi, mata uang, dan kertas berharga lainnya.

Ekonomi kapitalistik menjanjikan stabilitas ekonomi, faktanya yang terjadi adalah kekacauan. Ekonomi kapitalistik menjanjikan peningkatan kekayaan bagi semua, faktanya yang terjadi adalah kerusakan dan kemiskinan yang makin meluas.

Sebaliknya di sisi lain, ada  potret ekonomi yang makmur, sejahtera, adil, dan antikrisis. Sistem ekonomi bukan hanya berisi larangan riba dan perintah zakat.

Sistem ekonomi merupakan suatu sistem komprehensif yang mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sebagai tujuan sistem. Bukan hanya mengejar target angka pertumbuhan ekonomi.

Mendorong investasi dengan berlandaskan kepada faktor-faktor yang dapat menghasilkan kekayaan secara nyata. Jika berlandaskan aset produktif, underlying asset-nya nyata sehingga juga memudahkan negara dalam menghitungnya.

Bagi masyarakat, hal ini membuat masyarakat memiliki alokasi pendapatan yang besar untuk membeli barang dan jasa. Dampak dari hal ini ialah peningkatan permintaan barang dan jasa di dalam sistem ekonomi. Sehingga menghasilkan peningkatan angka perdagangan dan membuahkan peningkatan laba dari bisnis.

Dan karena ekonomi ini mengatur pola investasi terbuka dengan tidak adanya suku bunga, masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain berinvestasi dalam bisnis yang Ini, perdagangan barang dan jasa.

Situasi ini menciptakan iklim ekonomi yang dinamis yang memungkinkan terciptanya banyak lapangan kerja. Seiring dengan banyaknya lapangan kerja yang tersedia, lebih banyak uang pula yang dikeluarkan atau diinvestasikan kembali dalam sistem ekonomi, yang akan menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja. Tidak adanya ekonomi finansial yang paralel membuat orang hanya dapat berinvestasi dalam ekonomi riil.


[mds]
Previous Post Next Post