![]() |
| Amir Sjarifuddin |
CIP. HARI masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas di Desa Ngalian, sebelah timur kota Solo. Namun atas perintah tentara, dua puluh orang penduduk desa telah sibuk menggali kuburan. Salah satu liang dipersiapkan untuk mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia: Amir Sjarifuddin.
Sementara menunggu, Amir bertanya kepada seorang perwira TNI berpangkat letnan: apa yang akan terjadi? Amir bersama 10 rekannya didakwa melakukan makar terhadap pemerintah Republik. Dalam ‘Menggugat Peristiwa Madiun’ termuat di Pilihan Tulisan I, D.N. Aidit mencatat detik-detik eksekusi.
“Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?” tanya Amir. Perwira pemimpin regu tembak itu bergeming. “Tidak usah banyak bicara,” katanya. Surat dari Gubernur Militer Gatot Subroto disodorkan. Isinya: perintah eksekusi mati.
“Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih,” tanya Amir lagi. Tanpa tedeng aling-aling, pasukan regu tembak mulai mengisi bedilnya dengan amunisi.
Amin Sjarifuddin bersiap menghadapi ajalnya. Dia minta sedikit waktu agar bersama rekan-rekannya diberi kesempatan menulis surat. Permintan terakhir itu dikabulkan.
Amin Sjarifuddin bersiap menghadapi ajalnya. Dia minta sedikit waktu agar bersama rekan rekannya diberi kesempatan menulis surat. Permintan terakhir itu dikabulkan. Sesudah surat-surat diserahkan mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars komunis Internasionale. Sebelum peluru menghujam tubuhnya, Amir berseru, “Bersatulah kaum buruh seluruh dunia! Aku mati untukmu!” Dan kemudian…Dor! “Mulailah kesebelas orang gagah berani itu ditembak satu persatu, dimulai dengan menembak kawan Amir Sjarifuddin,” tulis Aidit.
Amir meregang nyawa bersama Maruto Darusman, Suripno, Sarjono, Oey Gee Hwat, Harjono, Sukarno, Djokosoejono, Katamhadi, Ronomarsono, dan D. Mangku. Semuanya dieksekusi pada pagi buta, 19 Desember 1948; beberapa jam sebelum Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua.
Menjelang Eksekusi
Tiga bulan sebelumnya, Amir bersama Musso mengadakan “pemberontakan” dengan mendirikan sebuah republik bercorak Uni Sovyet di Madiun. Pemerintah tidak menoleransi huru-hara ditengah perjuangan revolusi menghadapi Belanda. Sebagai perdana menteri, Hatta begitu sensitif terhadap tanda bahaya yang bisa memberi celah bagi Belanda menusuk Republik. Begitu mendengar kabar dari Madiun, Hatta berujar, “Het is nu een zaak van leven of dood. Er op of er onder (Sekarang adalah soal hidup atau mati. Menang atau kalah),” kutip T.B. Simatupang dalam Laporan dari Banaran. Sidang kabinet memutuskan: pengacau Madiun harus ditindak.
Musso tewas dalam pengejaran pada 31 Oktober 1948. Sementara pasca penarikan mundur dari Madiun, Amir memimpin sejumlah besar loyalis dalam pelariannya. Bersama sekira 3000 pengikutnya yang dipimpin Maladi Yusuf, terdapat pula anak-anak dan perempuan. Mereka merupakan anggota keluarga para “pemberontak” tersebut.
Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap adalah seorang politikus sosialis dan salah satu pemimpin terawal Republik Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri ketika Revolusi Nasional Indonesia sedang berlangsung. Berasal dari keluarga Angkola Muslim, Amir menjadi pemimpin sayap kiri terdepan pada masa Revolusi.
Kelahiran: 27 April 1907, Medan
Meninggal: 19 Desember 1948, Surakarta
Tempat pemakaman: TPU Ngaliyan Desa Lalung, Karanganyar
Jabatan sebelumnya: Perdana Menteri Indonesia (1947–1948)
Anak: Helena Luis Syarifuddin Harahap, Lidya Ida Lumongga, Tito Batari, Kesas Taromar, Andrea, Damaris
Organisasi didirikan: Pemuda Rakyat
(red).
