![]() |
| (ilustrasi) |
Rabu, 20 September 2023 Rempang, Batam - Pemerintah mencatat bahwa investasi ini senilai US$ 11,6 miliar atau sekitar Rp 172 triliun dan diharapkan dapat membuka 35.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Namun, banyak yang meragukan angka tersebut, dengan beberapa pihak menyebutnya sebagai pembohongan publik.
Tentu saja, investasi sebesar itu seharusnya dapat memberikan lebih banyak lapangan kerja daripada yang diumumkan. Mengacu pada benchmark internasional, sektor energi biasanya dapat menciptakan ratusan ribu lapangan kerja dengan investasi sebesar itu. Jadi, banyak yang mempertanyakan mengapa jumlah lapangan kerja yang diharapkan jauh lebih kecil.
Ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi. Pertama, investasi Xinyi Group mungkin tidak sebesar yang diumumkan. Kedua, ada potensi bahwa pemerintah sengaja merendahkan estimasi lapangan kerja untuk memberikan kesempatan bagi pekerja asing asal China.
Beberapa menganggap bahwa Indonesia telah menjadi 'master and slave' dalam hubungan investasi dengan China, di mana kebijakan investasi cenderung menguntungkan China lebih dari Indonesia. Ini tercermin dalam regulasi terbaru tentang penggunaan tenaga kerja asing, yang memberikan ruang bagi tenaga kerja asing untuk mengisi pekerjaan yang belum dapat diisi oleh pekerja lokal.
Meskipun investasi asing dapat memberikan manfaat ekonomi, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat tersebut merata dan memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal. Diskusi dan keterlibatan dengan berbagai pihak terkait, termasuk masyarakat sipil, sangat penting untuk mencapai kesepakatan yang adil dan transparan.
Terlepas dari perdebatan ini, investasi Xinyi Group di Pulau Rempang memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri kaca dan pasir silika, serta mendukung pengembangan panel surya, yang dapat menjadi langkah positif dalam mencapai tujuan energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
#mds
