![]() |
| Tampak Depan |
CIP, Takalar (Sulsel) (28-10-2023) - Kontroversi melibatkan Kepala Desa (Kades) Banyuanyara, Drs Subair Ewa, semakin memanas setelah beberapa warga melaporkan adanya tindakan diskriminatif terkait dukungan terhadap Calon Legislatif (Caleg) andalan Kades. Pengguna media sosial WhatsApp dengan nomor +62 859-394*-**** mengungkapkan intimidasi yang dilakukan oleh Kades, termasuk dalam distribusi Sembako.
Pada saat penerimaan Sembako, warga yang dicurigai tidak mendukung Caleg andalan Kades dipanggil ke ruangan dan diberi ancaman. Mereka diberitahu bahwa jika tidak memilih Caleg yang disupport oleh Kades, mereka tidak akan mendapatkan bantuan Dana Desa dan bahkan bisa kehilangan hak sebagai penerima Sembako.
Salah seorang tokoh pemuda desa Banyuanyara juga melaporkan kejadian saat kegiatan di kediaman seorang perangkat desa. Kades, dengan nada datar dan tak bersahabat, bertanya kepada warga yang hadir, "Kenapa kalian hadir di sini?" Menunjukkan sikap intimidatif Kades terhadap warganya sendiri.
Anak muda warga desa Banyuanyara, melalui WhatsApp dengan nomor +62 859-394*-****, mengungkapkan ancaman langsung dari Kades. Saat bertemu dengan tiga warga yang sedang bekerja, Kades menanyakan dukungan politik mereka. Ketika salah seorang warga belum memutuskan, Kades mengancam akan melibatkan polisi jika mereka tidak mendukungnya, meninggalkan ketakutan di kalangan warga.
Seorang aktivis desa Banyuanyara, dengan nomor +62 831-350*-****, juga memberikan kontribusi informasi terkait perilaku Kades yang mengintimidasi warga desa. Meskipun demikian, tokoh masyarakat Banyuanyara berinisial (N) mengakui bahwa belum melihat atau mendengar langsung kejadian tersebut.
Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Senin(23/10/2023), Kades Subair Ewa tidak memberikan klarifikasi yang pasti. Namun, dia menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan pihak yang memberikan informasi tersebut di kantor. Kontroversi ini terus menjadi sorotan dan menimbulkan pertanyaan tentang integritas dan etika dalam konteks pesta demokrasi. (M Said Welikin/Irfan)
