CHANNEL INDEPENDEN POST - MEWARTAKAN TANPA SEKAT - CHANNEL INDEPENDEN POST “ MEWARTAKAN TANPA SEKAT.” CHINA VS AMERIKA..!, INDONESIA DIMANA, PERJUDIAN YANG SUDAH DI LETAKAN DENGAN RESIKO MALAPETAKA.

CHINA VS AMERIKA..!, INDONESIA DIMANA, PERJUDIAN YANG SUDAH DI LETAKAN DENGAN RESIKO MALAPETAKA.

AMERIKA VS CHINA

https://www.channelindependenpost.eu.org. JAKARTA (14/5/2020) - Perang di laut china selatan ini menarik untuk di analisa. Sejak 1 bulan ini ketegangan di laut china selatan eskalasinya terus meningkat. Indonesia bagaimana respon nya? Biasa, tenang.

Tenang karena sudah faham atau tenang karena tidak faham. Saya tidak tahu juga, tenang karena faham dan punya skenario simulasi setiap tidakan atau tenang karena  TIDAK TAHU  mau nya apa dan tidak percaya akan ada perang militer di dunia modern ini. 


Persis seperti covid di januari dan februari, di awal bilang tidak ada, tidak ada, tau tahu ada, terus bingung panik, gagap, caca mudik pulang kampung mudik pulang kampung. Pasti bakal terulang lagi nantinya, pasti  gelagapan, gagap dan biasa mencari narasi pembenaran. Kan punya banyak buzzerp.

Kalau kita, kaum UKM ya sudah kapok menunghu. Kita bergerak juga, versi kita. Kita kupas tuntas tentang perang di laut china selatan bagaimana? 

Pastinya ini buat kita saja kaum piramida di bawah, bukan buat elit politikus, tetapi bisa jadi analisa pembanding agar pemerintah punya kacamata lain melihat berbagai kemungkinan, sehingga bisa mengambil langkah tepat untuk rakyat. 

Karena selama ini yang rakyat lihat hanya  keputusannya untuk kepentingan segelintir orang seperti masuknya TKA oleh  pejabat yang berbisnis ke sulawesi kemudian melanjutkan reklamasi teluk jakarta. Bau baunya tetap menjalankan protokol kolonialisasi 5.0 yang Tiongkok lakukan yang di dukung oleh pajabat teras.

Rakyat  bodoh tidak faham bahwa itu untuk kepetingan oligarki keputusannya, faham lah rakyat. Hanya banyak yang memilih diam dulu,  seperti belajarmancing yang di bayari sama kartu pra kerja, kalau pancing sudah mendapat ikan, jangan langsung di tarik, biarkan sampai dekat jika tersangkut, baru di beri tarikan kejut, pasti ikannya dapat.

AMERIKA VS CHINA

Begini melihatnya kalau kita faham geopolitik luar negeri. Perang itu di awalnya kita cari teman! dalam perang Barata yudha sebelum pecah perang.  Pandawa mencari dulu teman. Mereka bertanya dan mencari fakta, itu kerajaan jenggala ikut siapa ? Ikut kita atau teman kurawa. Itu kerajaan chedi ikut siapa  ? Ikut kita atau berpihak ke kurawa. 

Amerika dan china juga sama. Vietnam ikut siapa ya? Philipina ikut siapa ya? Thailand ikut siapa ya, indonesia ikut siapa ya?. Pokoknya kalau jawabnya netral artinya ikut LAWANNYA. Misalnya china tanya singapura, kamu ikut mana? Maka timbul jawaban diplomatis, kami netral, Maka jawaban itu di mata china, singapura ikut amerika.

Kalau amerika tanya singapura, kamu ikut siapa , jawabnya, kami selalu di belakang amerika. Mulai faham, jawaban diplomatis tadi bisa terbaca. Dan apakah pejabat tiong kok dan agen amerika akan bertanya dengan kalimat langsung seperti tadi? Ya tidak.

Di pelajaran dunia diplomasi ada banyak “trick” jebakan pertanyaan yang menguji arah jawaban. Sehingga kalau diplomatik senior dan berpengalaman internasional, hafal sekali jebakan pertanyaan tadi dan di jawab lincah.

Sebelum dilalukan lobby lobby by phone oleh para pemimpin puncak, para ambasador biasanya sudah gelisah cari manuver cari  informasi, dan yang paling cepat adalah dengan tindakan,  test the water di lakukan.

Saat ini ketegangan itu di ukur langsung dilapangan. Nelayan china masuk perairan indonesia di natuna, indonesia  diam saja, nelayan vietnam beberapa saat yang lalu  masuk keperairan indonesia  di tembak, di tahan dan di tengeglamkan kapalnya. 

Di sini, di laut china selatan ternyata saat ini indonesia dan vietnam sedang ada pembicaraan diplomasi dan ada konflik kecil. Bagi mata pengamat intelijen pertahanan internasional ini menunjukan apa? 

Laut China Selatan

Ini menunjukan, Amerika lagi test the water melalui proxy nya vietnam, indonesia miring kemana? Terlihat indonesia merespon vietnam tetapi tidak merespon china. Satu...

Test kedua di lakukan. 
Delegasi amerika ke indonesia 28 april meminta tempat pangkalan militer di selat malaka, dan delegasi china datang 1 mei ke indonesia meminta jangan kasih amerika untuk mangkal di selat malaka. 

Sementara, tiong kok selat malaka sudah punya port kelang. Wilayah armada perdagangan tiongkok.

Jawaban di plomasi indonesia adalah, indonesia negara bebas aktif jadi tidak memihak manapun dan permintaan akan pangkalan militer amerika jadi di tolak. Dan ternyata,  genderang perang bunyi. Terbaca kemana kecenderungan diplomasi indonesia.

Wilayah mana yang diminta amerika? Chock point selat malaka. 

Chocking point adalah wilayah selat terpendek yang bisa buat mencekik orang. Ini sebenarnya istilah bajak laut. Para pirate melakukan serangan terhadap kapal niaga biasa di wilayah choking point ini. di eropa dulu banyak sekali wilayah chock point ini ketika abad pertengahan dulu, jaman masih brutal, kemudian di wilayah amerika selatan di karibia dan banyak lagi tempat. 

Salah satu yang paling legend adalah selat malaka di jaman sriwijaya. 

Di jaman raja premeswara, di jaman hang nadim dan hang tuah. Terkendali  celah terkecil tersebut. Yang lewat bayar pajak atau upeti. Karena itu sriwijaya di kenal dengan kehebatan maritimnya karena menjaga selat malaka, di celah tersempit. 

Kalau sekarang? Bernegaranya seolah-olah. Jadi di biarkan terbuka. Silahkan boss, Andalah yang berkuasa. 

Kita lanjut analisanya, apakah bedil akan meletus di kedua belah pihak? Kalau perang militer terjadi siapakah yang akan menang? Kita semua tahu dari jawaban dan tindakan yang pejabat negara sudah lakukan? 


Semua ini membuat saya jadi kepikiran,  politik luar negeri indonesia hari ini menggantungkan hidupnya pada china, mudah mudahan tiongkok menang melawan amerika, itulah harapan pemerintah saat ini. Di sisi lain punya pendapat, kalau tiongkok kalah maka inilah awal malapetaka bagi bangsa indonesia. 


[MDS]
***
#peace
#BosMardiguw
#Wowiek

Previous Post Next Post