![]() |
| [Didit Fachri rifai, S.E., M.M] [Dosen Manajemen STIEM BONGAYA] |
CIP. (19/12/2020) Financial Technology (Fintech), Teknologi tanpa batas di Era Industri 4.0 ini terus mengalami perkembangan, menjamurnya smartphone dan mudahnya akses internet bagi masyarakat memicu terjadinya peningkatan bagi pengguna internet dalam beberapa tahun belakangan ini sehingga mengharuskan setiap industri bekerja keras berinovasi menciptakan sesuatu yang berkualitas dan mudah untuk digunakan. Hal inilah kemudian menjadi pijakan bagi industri online untuk menghadirkan terobosan baru atau bahkan yang belum pernah ditawarkan sebelumnya.
Sebagai contoh kehadiran sebuah industri baru yang bernama financial technology atau akrab dikenal dengan sebutan “Fintech” yang mana merupakan integrasi layanan keuangan dengan teknologi yang mengubah model bisnis keuangan konvensional, seperti mengganti dan menyederhanakan proses tanpa harus bertransaksi secara langsung.
Penetrasi teknologi ini terlihat dari banyaknya jumlah transaksi uang elektronik yang dilakukan. Dari data Bank Indonesia dibawah ini ada lonjakan dari tiap bulannya. Untuk November 2020 sebanyak 406,322 Juta transaksi. Dengan nominal 19,340 Juta.
Kenaikan pengguna uang elektronik ini menunjukkan bahwa adanya perubahan perilaku masyarakat dalam berkegiatan finansial. Perubahan perilaku tersebut juga menunjukkan bahwa preferensi setiap masyarakat berbeda – beda.
Preferensi ini merupakan pilihan atau minat seseorang pada kondisi dimana terdapat opsional pilihan terhadap suatu jenis produk barang dan jasa. artinya setiap konsumen berhak melakukan suatu evaluasi terhadap barang dan jasa yang benar-benar ingin dibeli. Termasuk juga keputusan dalam penggunaan e-money.
Preferensi ini umumnya dipengaruhi oleh lima karakteristik sesuai dengan bentuk - bentuk sub penilaian yang mengantar setiap pelanggan menentukan pilihannya terhadap keputusan mengenai penggunaan suatu produk, mulai dari karakteristik budaya, sosial, pribadi serta ekonomi dan psikologis.
Adapun instrumen preferensi diuraikan sebagai berikut:
1. Karakteristik Budaya, karakteristik ini menunjukkan implementasi dari pemahaman pelanggan mengenai preferensi sesuai dengan karakter budaya dari masing-masing pelanggan.
Karakteristik budaya terbagi menjadi dua yaitu:
- Bentuk fisik dari suatu produk. Setiap pelanggan mempunyai keinginan membeli produk dengan bentuk fisik yang berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan mereka.
- Model, model produk diartikan sebagai jenis dari produk. Model juga dipengaruhi oleh karakteristik budaya dari masing-masing konsumen.
3. Karakteristik pribadi mencakup pekerjaan dan gaya hidup.
4. Karakteristik ekonomi mencakup pendapatan, simpanan dan pengeluaran.
Pemasar tidak dapat mengendalikan karakteristik - karakteristik seperti ini tetapi hanya memperhitungkan implementasi dari masing - masing karakteristik tersebut. Tahap preferensi yang dimiliki oleh konsumen terhadap sebuah produk, adalah awal dari tahap loyalitas konsumen terhadap produk tersebut. Sehingga perusahaan harus mempelajari bagaimana cara menimbulkan rasa preferensi tersebut didalam diri seseorang. Tahap preferensi terhadap perilaku konsumen terjadi dengan mempengaruhi dan memanipulasi dari konsumen yang mereka lalui.
Pembahasan Merujuk dari hasil suatu studi:
https://journal.stieamkop.ac.id/index.php/seiko/article/view/739 yang menggunakan pendekatan karakteristik preferensi sebagai pengaruh terhadap keputusan masyarakat di Kota Makassar dalam menggunakan E-Money diketahui dari 208 responden yang melakukan transaksi pembayaran menggunakan e-money menunjukkan bahwa secara simultan karakteristik preferensi yang terdiri dari budaya, ekonomi dan psikologi memiliki pengaruh yang signifikan dengan kontribusi sebesar 73,9% dan sisanya 26,1% dipengaruhi variabel lain diluar model.
Ini menggambarkan dimana preferensi budaya masyarakat saat ini berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Merespon dari layanan fintech dalam memberi kemudahan bertransaksi serta melakukan pembayaran melalui smartphone menjadi daya tarik bagi masyarakat di Ibu Kota saat ini. Selanjutnya preferensi ekonomi dimana kemampuan daya beli serta minat konsumsi masyarakat menjadi pemicu dalam meningkatkan pembelian, ini yang kemudian mendorong aktivitas masyarakat dalam penggunaan e-money.
Selain itu besaran pengeluaran masyarakat setiap bulannya juga berpengaruh dalam keputusan menggunakan e-money. Sementara preferensi psikologi ini menggambarkan pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan cara penggunaan e-money ini. Banyaknya tawaran cashback serta toko merchant yang dapat menerima pembayaran e-money akan membentuk serangkaian motivasi keputusan pada penggunaan e-money.
Kesimpulan
Sejatinya preferensi ini terbentuk dalam proses evaluasi pada model keputusan pembelian semakin banyak pilihan terhadap suatu produk maka semakin besar pula peranan preferensi dalam mempengaruhi selera dan perilaku konsumen. Walaupun bukan penentu akan tetapi wujud preferensi ini berimplikasi didalam individu seseorang dalam mengambil keputusan pembelian.

Preferensi Masyarakat